Perkenalkan Vuvuzela, sistem jaringan Internet anonim baru yang tidak dapat dilacak!

Sebuah jaringan internet anonim baru yang bekerja pada internet publik telah dirancang oleh para peneliti dari MIT. Jaringan anonim ini sama halnya dengan Tor, tidak mampu dilacak dan memungkinkan penggunanya untuk berselancar di internet tanpa khawatir untuk direkam segala aktifitas onlinenya. Selama ini beberapa jaringan anonim tidak cukup aman karena dapat dilacak dari node-node Internet yang digunakan. Node internet adalah titik koneksi (connection point) yang digunakan untuk menghubungkan antara jaringan satu dengan jaringan lainnya. Nah, sistem jaringan baru ini mampu membenahi titik-titik lemah yang selama ini menjadi pintu masuk yang digunakan para pelacak jaringan.

 photo Geographies_of_Tor 5221.png

 

Menurut Nickolai Zeldovich, seorang profesor ilmu komputer MIT, Tor bekerja berdasarkan asumsi bahwa tidak ada satu pihakpun yang mengawasi setiap link tunggal yang digunakan. Sistem jaringan internet anonim terbaru ini akan membingungkan setiap pihak yang berusaha melacak dengan menciptakan banyak lalu-lintas informasi palsu. Sistem ini diberi nama oleh para ilmuwan dengan nama “Vuvuzela”.

Vuvuzela bekerja dengan hanya memungkinkan setiap pengguna untuk meninggalkan pesan kepada pengguna lain di lokasi yang telah ditentukan sebelumnya. Maksud dari lokasi yang ditentukan adalah alamat memori pada server yang terkoneksi dengan internet. Tidak hanya itu, untuk setiap lalu-lintas data, Vuvuzela akan menambahkan beberapa lapis lalu-lintas informasi palsu untuk membingungkan pihak lawan.

Analogi Sistem Kerja Vuvuzela

Vuvuzela bekerja dengan sistem kerja berbasis kriptografi. Kriptografi berasal dari dua kata; kripto dan grafi. Kripto dalam bahasa Yunani artinya menyembunyikan, sedangkan grafi artinya tulisan. Kriptografi dalam dunia ilmu pengetahuan berarti segala ilmu tentang teknik-teknik matematika yang berkaitan dengan kerahasiaan informasi.

Para peneliti MIT memberikan analogi sederhana tentang bagaimana Vuvuzela bekerja. Mereka mengasumsikan hanya ada 3 pengguna; Alice, Bob, dan Charlie. Alice dan Bob ingin saling bertukar pesan teks namun mereka tidak ingin aktifitas mereka dilacak. Jika Alice dan Bob mengirim pesan ke server dan Charlie tidak, maka peretas atau pelacak akan dapat dengan menyimpulkan bahwa Alice dan Bob berkomunikasi, nah Vuvuzela akan memastikan semua pengguna mengirimkan pesan ke server tidak peduli pesan mereka mengandung informasi atau tidak.

 photo Vuvuzela 5222.jpg

Bagaimana jika peretas mampu menyusup ke server Vuvuzela? Tentu pihak peretas mampu melihat bahwa pesan Charlie diarahkan ke satu alamat, dan pesan Alice dan Bob diarahkan ke satu alamat yang lain dan dengan demikian, pihak peretas mengetahui siapakah yang sebenarnya saling mengirimkan pesan teks. Para ilmuwan sudah mengantisipasi hal ini dengan menyediakan tiga server, alih-alih menggunakan satu server. Setiap pesan yang dikirim melalui sistem akan “dibungkus” dalam tiga lapisan enkripsi data. Jadi semisal pesan Alice tiba lebih dahulu dari pesan Bob dan Charlie pada server pertama, maka pada server kedua, urutan pesan yang diterima akan berubah; misal Bob-Alice-Charlie atau Charlie-Alice-Bob. Pada intinya, walau musuh mampu menyusup ke dalam server Vuvuzela, mereka tidak mampu mengidentifikasi urutan pesan yang masuk dan dengan begitu tidak mampu menentukan pihak mana saja yang sedang melakukan komunikasi online.

Sistem ini mampu memberikan manfaat pada instansi-instansi yang mengolah data-data rahasia yang akan sangat berbahaya jika diketahui musuh atau teroris. Namun bagaimanapun, sebuah teknologi akan selalu menjadi pedang bermata dua yang dapat mendatangkan keuntungan dan kerugian tergantung dari siapa penggunanya.

sumber:http://artikel-teknologi.com

Ayo bagikan Artikel ini